Life Story
Sendiri
dan Sepi
Sendiri
dan sepi, fisik dan perasaan. Pembentuk karakteristik seseorang
Dua
kata berbeda, namun saling berkaitan
Sendiri
dan sepi mungkin dua kata yang berbeda. Tapi kedua kata tersebut memiliki keterkaitan
dalam diri seseorang. Sendiri berkaitan dengan fisik, sedangkan sepi berkaitan
dengan perasaan. Aku tidak mengenal ”sendiri
dan sepi” ketika masih kecil. Akan tetapi, ketika beranjak dewasa, aku pun
mengenal mereka “sendiri dan sepi”.
Entah
apa yang membuat aku mengenal mereka. Terkadang aku mengenal kata sendiri dan
membuatku sudah terbiasa dengan hal itu. Dapat dikatakan “sendiri” sudah menjadi bagian dalam diriku. Apapun yang aku
lakukan dan dimanapun aku berada selalu dengan kata itu. Memang benar apa kata
orang yang mengatakan pasti ada kelebihan dan kelemahan dari suatu hal. Hal ini
juga yang aku temukan dari kata itu. Dengan “sendiri” aku dapat melakukan banyak hal, tanpa meminta bantuan
ataupun ketika orang disekelilingku tidak dapat membantuku. Semuanya dapat
kulakukan tanpa tergantung pada orang disekelilingku. Hal ini menjadi
keuntungan untukku. Tapi di lain situasi, aku menjadi acuh tak acuh dengan
orang disekelilingku dan menjadi tidak nyaman dengan mereka. Aku menjadi
terbiasa sendiri dan kemajuan komunikasiku menjadi berkurang. Hal inilah yang
merugikanku sebagai makhluk sosial.
Disaat
itu juga rasa “sepi” muncul dalam
diriku dikarenakan kesendirian itu. Aku merasa iri melihat orang yang selalu
berpergian maupun berkumpul dengan banyak kerabat mereka. Kemajuan komunikasi
mereka sebagai makhluk sosial pun terus berkembang. Tidak ada batasan bagi
mereka untuk berbicara. Aku berpikir memang itulah seharusnya yang dilakukan
oleh makhluk sosial. Selalu menjaga komunikasi yang baik dan memperbanyak social
networks.
“Sendiri dan sepi
mungkin bisa masuk ke dalam diri siapapun. Dan mungkin bisa memicu
katakteristik seseorang. Sendiri dan sepi bisa bermanfaat maupun merugikan. Tergantung
cara seseorang menempatkan sendiri dan
sepi itu“.
*** NN ***

Komentar
Posting Komentar