Motivation Story
Sabar
untuk Mendapat yang Terbaik
Sesuatu yang kita anggap terbaik, belum tentu
terbaik menurut Sang Pencipta
Aku
adalah seorang wanita yang baru menyelesaikan pendidikan. Statusku saat ini
adalah sebagai jobseeker. Setiap hari
yang kulakukan adalah mencari pekerjaan. Aku melamar ke berbagai perusahaan melalui
online, layanan jasa pengantar surat, maupun mengantar surat lamaran tersebut
langsung ke perusahaan. Aku menyukai perusahaan yang bergerak di bidang makanan
dan minuman. Sehingga aku banyak melamar di perusahaan yang bergerak di bidang
tersebut. Perusahaan yang paling tidak kuinginkan adalah perusahaan yang
bergerak di bidang farmasi. Oleh karena itu, aku hanya mencoba memasukkan
beberapa ke perusahaan tersebut.
Setelah
dua bulan aku melamar pekerjaan ke berbagai perusahaan, akhinya aku mendapat
panggilan dari beberapa perusahaan. Aku banyak mendapat panggilan dari
perusahaan makanan karena memang perusahaan tersebut yang paling banyak aku
lamar dan aku inginkan. Aku mengikuti serangkaian tahapan proses seleksi
karyawan mulai dari psikotes sampai wawancara. Ini adalah pengalaman pertamaku
dalam mengikuti seleksi karyawan dalam sebuah perusahaan. Sehingga aku mulai
mempelajari tentang psikotes dan wawancara kerja. Akan tetapi, mengikuti
seleksi karyawan tidak semudah yang diperkirakan. Kenyataannya teori tidak
sesuai dengan praktik yang kita lakukan. Aku selalu lulus dalam tahap psikotes,
tapi selalu gagal dalam tahap wawancara.
Setelah
aku mengamati banyak kegagalan saat tahap wawancara, akhirnya aku lebih
mendalami belajar dalam meghadapi wawancara kerja. Aku semakin banyak mengerti
mengenai tahapan wawancara. Setelah tiga bulan berlalu akhirnya aku mendapat
panggilan kembali, namun dari perusahaan farmasi. Aku tetap mengikuti proses
seleksi karyawan, sampai akhirnya aku berada pada tahap wawancara pertama.
Akupun lulus dalam wawancara kedua di perusahaan tersebut. Akan tetapi, saat
wawancara ketiga aku tidak mendapat panggilan kembali dari perusahaan tersebut.
Dan kelanjutan dari proses seleksi karyawan tersebut terhenti begitu saja.
Lima
bulanpun berlalu, aku masih saja belum mendapatkan pekerjaan. Banyak teman
seperjuanganku sudah mendapatkan pekerjaan dan bahkan sudah bekerja. Disaat
inilah perasaanku mulai gelisah, bingung, malu, dan juga kepercayaan diriku
mulai menurun. Aku mulai membatasi berkomunikasi dengan temanku dikarenakan
malu karena belum juga bekerja. Aku sudah tidak berpikir untuk mendapatkan
pekerjaan yang aku inginkan. Aku hanya berpikir untuk mendapat pekerjaan,
apapun itu perusahaannya. Karena keadaan sekarang adalah harapan tidak sesuai
dengan kenyataan yang aku terima. Akhirnya aku mulai menyerahkan semuanya
kepada Sang Pencipta. Aku selalu berdoa agar aku mendapat pekerjaan yang
terbaik menurutNya.
Setelah
hampir enam bulan berlalu, akupun mendapat panggilan untuk mengikuti seleksi
karyawan dari perusahaan farmasi. Aku mengikuti semua proses tahapan seleksi.
Sampai akhir proses tahapan seleksi aku dinyatakan lulus. Selanjutnya aku
mengikuti training di perusahaan
tersebut dan satu bulan kemudian sudah mulai bekerja. Beberapa bulan berlalu
aku merasa senang berada di lingkungan kerja yang berbeda dari perusahaan
lainnya. Aku mendapatkan banyak orang baik di perusahaan tersebut kepadaku
layaknya seperti keluarga dan teman. Aku menemukan solidaritas dan rasa
kekeluargaan yang mungkin tidak akan pernah aku temukan di lingkungan kerja
lainnya.
“Saat itulah aku bersyukur dan menyadari
bahwa Sang Pencipta memberikan ujian kepadaku agar aku selalu sabar untuk mendapatkan
yang terbaik. Karena untuk mendapatkan yang terbaik tidak akan semudah membalikkan
telapak tangan. Perlu kerja keras dan kesabaran yang penuh untuk
mendapatkannya”.
*** NN ***

Komentar
Posting Komentar